Gempa yang mengguncang di kepulauan mentawai, juga terjadi di Padang Sumatera Barat, .Pasalnya gempa yang berkekuatan 8,3 SR tersebut terjadi di kedalaman 10 km dikabarkan berpotensi tsunami. Akibatnya membuat warga Padang, Sumatera Barat dan sekitarnya panik dan berhamburan ke luar rumah mencari tempat yang tinggi.
Gempa terjadi pukul 19.35 WIB, Selasa 2 Maret 2016 sempat terjadi 2 kali. Gempa ini sontak membuat warga panik dikarenakan adanya himbauan dari pemerintah bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami.
Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo
Nugroho, di beberapa daerah khususnya di Kota Padang terjadi kemacetan
karena masyarakat mengungsi dengan kendaraan bermotor.
“Adanya
kepanikan masyarakat dan kemacetan lalu lintas di masyarakat saat
evakuasi adalah manusiawi,” sebut Sutopo dalam keterangannya, seraya
merujuk pada
gempa yang terjadi pada pukul 19.49 WIB itu.
Meski demikian,
lanjut Sutopo, tindakan masyarakat yang masih memaksa untuk melakukan
evakuasi dengan kendaraan tanpa mempedulikan kemungkinan terjadinya
kemacetan, dapat menyebabkan terlambatnya evakuasi.
Dia lalu mencontohkan beberapa kasus di Padang dan Banda Aceh, ketika
masyarakat cenderung menuju dataran tinggi yang lokasinya bisa mencapai
1,5 km dibandingkan menggunakan bangunan evakuasi vertikal yang
jaraknya hanya beberapa meter dari tempat tinggalnya.
Contoh-contoh
kasus itu dikuatkan penelitian yang dilakukan Unsyiah dan JICA pada
2012 terhadap perilaku masyarakat dalam melakukan evakuasi saat menerima
peringatan dini tsunami.
Dalam penelitian itu diketahui 75%
masyarakat mengungsi menggunakan kendaraan bermotor dan sebanyak 78%
pengungsi terjebak dalam kemacetan sekitar 20 menit.
Hal ini, kata dia, sangat dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan, dan pendidikan dan latihan yang dimiliki masyarakat.
“Sebagian besar masyarakat yang melakukan evakuasi, tindakannya lebih
didasari pada apa yang pernah dialaminya, pengetahuan yang masih
terbatas, dan pendidikan dan pelatihan yang juga terbatas. Masih
terdapat masyarakat yang merasa perlu mendapatkan kepastian gejala
tsunami dengan pergi ke pesisir untuk melihat air surut,” kata dia
mengacu pada gempa yang sempat disebut BMKG berpotensi menimbulkan
tsunami.
Untuk itu, Sutopo mengimbau masyarakat di daerah rawan bencana untuk berpartisipasi dalam latihan bencana.
Kepada BBC Indonesia, beberapa saat setelah gempa mengguncang,
Zulharman, seorang warga Siberut di Kepulauan Mentawai, mengaku mengungsi ke dataran tinggi.
"Gempa
terasa lebih dari dari lima menit, saat ini sebagian warga masih ada
yang mengungsi ke dataran yang lebih tinggi,” ujarnya.
Marjina,
warga di Sikakap, kepada kantor berita Associated Press mengatakan bahwa
gempa terasa tak begitu kuat, namun peringatan tsunami sempat membuat
warga desa panik dan mereka menuju ke tempat-tempat yang lebih tinggi.
Di Padang, Sumatera Barat, gempa juga membuat warga ke luar rumah untuk mencari perlindungan.
Sumber: www.bbc.com




